Cyberbullying
Oleh Dinas Pengembangan Wawasan Intelektual
Dewasa ini fenomena cyberbullying marak terdengar dikehidupan kita. Bahkan dari anak kecil hingga orang tua pun dapat melihat fenomena ini. Sebelumnya, cyberbullying adalah olokan atau cacian yang merupakan perilaku seseorang atau kelompok secara sengaja dan berulang kali melakukan tindakan yang menyakiti orang lain melalui komputer, telepon seluler, dan alat elektronik lainnya (Rifauddin, 2016). Perkembangan teknologi dan media sosial sangat menunjang keberadaan cyberbullying pada dewasa ini. Beberapa karakteristik yang berbeda adalah updating secara real-time, informasi yang tersebar secara luas, memiliki titik kumpul untuk melihat informasi, memiliki fitur yang memungkinkan pengguna situs media soal dapat menanggapi dan memberi masukan. Kemampuannya dalam menanggapi dan memberi masukan dapat menyebabkan cyberbullying. Kemampuan tersebut semakin meningkat ketika digabungkan dengan teknologi mobile yang memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi kapan dan dimana pun. Dengan kemampuan teknologi mobile tersebut, maka tindakan cyberbullying pun semakin sering terjadi. Cyberbullying secara tidak langsung dapat menyebabkan tindakan-tindakan criminal (Hidajat, Adam, Danaparamita, & Suhendrik, 2015). Coba bayangkan, ketika media sosial dan teknologi yang belum semaju ini, keberadaan bullying pun belum separah ini. Berbicara tentang penggunaan media sosial di Indonesia, setidaknya sudah ada sekitar 80 juta orang dan termasuk menduduki peringkat tinggi di Asia, setelah China, India dan Jepang. Pengguna media sosial tersebut tidak hanya dari kalangan dewasa, yaitu dari kalangan anak-anak muda yang sedang senang mencoba hal-hal yang baru (Rifauddin, 2016).
Cyberbullying ini bukan hal yang tabu bagi masyarakat sekarang, bahkan banyak yang menjadi korban serta pelaku dari kalangan remaja. Asal muasal cyberbullying ini dari bahan bercandaan biasa. Motif dari kegiatan cyberbullying ini adalah mulai dari pengucilan sosial, meremehkan komentar public, penciptaan konten yang menyakitkan hingga pemalsuan identitas. Mulai dari hal simpe, seperti menggunakan foto korban untuk menjadi bahan olokan dan korban pun merasa seperti harga dirinya diinjak-injak dikarenakan hal yang dianggap biasa namun efeknya sangat mempengaruhi emosi korban. Kebanyakan korban dari cyberbullying ini cenderung wanita. Bahkan para korban cyberbullying ini rela melakukan bunuh diri daripada menanggung malu atas bullying yang didapat. Cyberbullying itu sendiri adalah kesalahan dari penggunaan teknologi informasi yang merugikan atau menyakiti dan melecehkan orang lain dengan sengaja secara berulang-ulang. Cyberbullying dapat terjadi pada kelompok yang saling mengenal dan kelompok orang yang tidak mengenal. Cyberbullying dapat menyebabkan pelaku menggunakan identitas palsu yang menyebabkan pelaku merasa bebas dari aturan-aturan sosial dan normatif yang ada. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan UNICEF pada tahun 2011 hingga 2013 yang dirilis Februari 2014, menyatakan sebagian besar remaja di Indonesia telah menjadi korban cyberbullying. Hal ini melibatkan 400 anak dan remaja dari kalangan usia 10-19 tahun. Dengan 89% responden berkomunikasi secara online dengan teman-teman mereka, 56% berkomunikasi online dengan keluarga, dan 35% berkomunikasi secara online dengan guru mereka. Sebanyak 13% responden mengaku menjadi korban cyberbullying dengan bentuk hinaan dan ancaman.
Kembali kepada motif cyberbullying, sebenarnya ini adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Dikarenakan, hal ini menjadi bahan lelucon atau olokan bagi penikmat atau pelakunya. Hal ini dapat melanggar Hak Asasi Manusia. Bayangkan, apabila suatu aib atau kebiasaan yang dimiliki oleh korban lalu dijadikan bahan lelucon dapat diartikan bahwa korban merasa sangat malu dan merasa terancam keamanan dirinya. Sudah saatnya sebagai orang yang berpendidikan, yang mengerti tata karma dalam kehidupan bersosial membatasi penggunaan media sosial yang berlebihan. Cukup dengan komentar yang indah, atau tidak sama sekali melontarkan kata-kata yang dirasa tidak penting untuk dikatakan. Apabila dari pihak lain menganggap bahwa apa yang kita utarakan dimedia sosial sudah menyinggung perasaanya, maka bisa dianggap kita telah melakukan cyberbullying. Maka, berhati-hati dalam media sosial itu penting sekali dalam kehidupan sosial kita, demi menjaga nama baik diri masing-masing dan juga menjaga hubungan pertemanan. Dalam hal ini, selalu tebarkan keadaan yang positif yang dapat membuat diri kita senang, dan orang lain senang.

Bibliography
Hidajat, M., Adam, A. R., Danaparamita, M., & Suhendrik. (2015). Dampak Media Sosial Dalam Cyberbullying, 72-81.
Rifauddin, M. (2016). Fenomena Cyberbullying Pada Remaja. Studi Analisis Media Sosial Facebook, 36.

Kategori: ARTIKELPENDIDIKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *